Menyeret Langkah yang Rapuh
Menyeret Langkah yang Rapuh
Written By : Nabs~
Halo, semuanya. Nabs disini.
Entah apakah ada yang membacanya atau tidak, aku tidak peduli. Mungkin dengan menuangkan isi kepalaku disini, bisa membuat apa yang terpendam di raga menjadi lebih ringan walau sedikit. Aku ingin mengatakan beberapa hal, setelah apa yang terjadi padaku di tahun ini, tahun 2025.
Urmm ... ini sudah memasuki bulan November. Waktu berjalan begitu cepat, namun aku merasa aku tidak memiliki perkembangan sama sekali di tahun ini, semenjak aku sering sakit di awal bulan Maret. Hanya sakit biasa, namun beruntun. Sakit, sembuh, sakit, sembuh, begitu seterusnya.
Banyak sekali hal yang tertinggal. Aku tidak bisa menyalahkan sakit. Mungkin, Allah memberiku sakit tersebut untuk menggugurkan dosa-dosaku. Dan sepertinya dosa-dosaku banyak, entah aku menyadarinya atau tidak. Yang jelas, kadang tak hanya raga, tapi juga jiwa. Jiwa kecil ini, yang takut untuk menjadi dewasa.
Kadang, aku sering berpikir dan menanyakan kepada diriku sendiri, dimana jiwa kecil yang dulu sangatlah aktif dan bersemangat? Dimana jiwa kecil yang dulu pernah memenangkan piala pertamanya di lomba pidato, disaat yang lain melihat jiwa kecil itu sebagai gadis yang cengeng dan pendiam? Dimana jiwa kecil yang dulu selalu berpikir positif? Dimana jiwa kecil yang dulu selalu ambisius mengejar targetnya?
Dimanakah jiwa kecil yang dulu itu?
Aku dulu nampaknya memiliki nyali, mematahkan ekspetasi orang-orang, bahwa mustahil seorang gadis yang kata mereka baik sepertiku, yang menurut mereka mungkin paling religius atau berjiwa putih ini bisa lulus ke salah satu jurusan kuliah yang memang dulunya memiliki pertentangan dengan beberapa nilai agama. Desain Komunikasi Visual, aku dulunya memilih jurusan itu karena aku merasa aku hanya bisa menikmati hidupku selepas lulus pesantren enam tahun disana.
Kalian tahu? Aku lemah di bahasa, salah satu bidang yang menurut orang luar seharusnya santri sangatlah ahli di bidang itu. Selain itu, aku lemah dalam ilmu perhitungan. Pasti lebih tertekan jika aku lulus di jurusan yang berkaitan dengan bahasa dan juga menghitung. Dulu, mungkin salah satu keahlian yang kumiliki hanyalah menghafal kitab suci. Buktinya, aku bisa menyelesaikan 600 halaman lebih Alquran saat umurku 16 tahun.
Aku yakin, bekal itu saja tidak cukup untuk membuatku bertahan selepas lulus SMA. Jadi, aku fokus pada tes dan juga menggambar. Dan mungkin menguatkan fisikku. Aku lumayan bisa bela diri, dan aku sering berkelahi dengan kakak lelakiku. Bukan berkelahi sungguhan tentunya, hanya untuk main-main.
Namun sepertinya, semua itu masih kurang.
Aku menuangkan isi pikiranku disini, dengan tetesan bening yang membasahi wajahku sedikit. Selepas sakit, aku merasa banyak tekanan yang kuhadapi. Suara-suara aneh entah darimana muncul, meragukan diriku. Mereka seolah berhasil melemahkanku. Langkahku yang awalnya mantap mulai rapuh seiring berjalannya waktu.
Beberapa masalah kecil pun sering membuatku terdistraksi, mereka bilang aku tidak boleh seperti itu. Mereka bilang aku terlalu terbawa perasaan. Mereka bilang aku terlalu sensitif. Mereka bilang aku sering mendramatisir keadaan. Entah aku sadar atau tidak, aku tidak tahu bagaimana awalnya bisa seperti itu karena terjadi secara tak sadar, diluar kendaliku. Dan ini yang membuatku takut, aku takut suatu hari bersikap kurang ajar kepada orang karena sikapku ini.
Bagaimana cara mengendalikan emosiku yang tak stabil? Aku senang aku bisa sabar, tapi di sisi lain pikiranku mengatakan bahwa sesuatu yang menurutku itu adalah sabar sebenarnya adalah seluruh emosi yang terpendam, dan sewaktu-waktu bisa meledak seperti bom. Saat meledak, menyakiti orang. Dan mungkin inilah yang membuatku lebih suka sendirian, karena tidak ada siapapun yang bisa tersakiti karenaku, bukan?
Untungnya, aku tidak pernah merasa aku benar-benar sendirian. Aku yakin, bahwa pasti akan selalu ada yang menemaniku, entah yang memang setia, atau mungkin yang hanya hadir sesaat. Siapapun orang baik yang setia atau tidak, aku tetap menganggap mereka sebagai seseorang yang pernah hadir menemaniku saat aku merasa sangat rapuh dan selalu mengeluarkan tangisku yang tidak seberapa penting ini.
Ya, mungkin itu salah satu sisi positifnya. Aku selalu yakin bahwa selalu ada orang yang akan menemaniku. Setidaknya, meski sekarang aku sedang menyeret langkahku yang rapuh, aku tidak ada keinginan untuk mengakhiri semuanya. Aku hanya membutuhkan bimbingan. Kumohon, semoga suatu saat ada dan bisa membuatku menjadi lebih baik. Di sisi lain, aku tidak ingin pulang juga, tinggal bersama orang tua. Aku ingin mencoba bertahan tanpa mereka, karena mereka dulu bisa melakukannya. Bertahan sendirian di dunia luar, yang dimana aku masih terlalu awal mengenalnya.
Sekarang, langkahku rapuh, bahkan terseret. Sering menangis sendirian tanpa ada yang tahu. Menangis tanpa alasan juga ada. Tekanan, sensitivitas, pikiran yang berisik, rasa takut, rasa cemas, fisik yang sering melemah karena tekanan dalam, bintang kecil yang berharap bisa mendapatkan secercah cahaya yang sangat terang.
Tolong, berikanlah. Aku takut. Ya Allah, hamba-Mu yang satu ini penuh dosa dan keputusasaan, tapi Engkau sangatlah baik masih memberikannya kehidupan, walau hamba-Mu menjalaninya tanpa arah dan berusaha menjalani dunia yang menakutkan ini, yang tak banyak diketahuinya. Mari kita lihat, sejauh mana Bintang Kecil itu bisa bertahan.
Selesai ditulis pada : 20 November 2025, pukul 09.00, di kamar kos, Semarang, Jawa Tengah.
Komentar
Posting Komentar